Phubbing yang semakin mengancam

Pernah di satu restoran saya melihat  pemandangan unik, ada keluarga yang sedang makan bersama akan tetapi setiap anggota keluarga tersebut sedang asyik dengan smartphone-nya masing, mereka benar duduk bersama dalam meja yang sama, tetapi tenggelam dengan kegiatan masing-masing. Seperti itulah kira-kira perilaku phubbing, dan semakin hari perilaku tersebut kelihatan semakin sering terlihat.  Phubbing adalah akronim dari phone snubbing, atau dapat dikiaskan ketergantungan dengan smartphone atau gadget.

Phubbing adalah perilaku yang semakin mengancam

Munculnya istilah phubbing pertama kali oleh Alex Haigh, mahasiswa Australia yang magang di sebuah perusahaan periklanan terkenal di Australia , McCann.  Pada tahun 2012 McCann bersama Macquaire dictionary mengundang para lexicographes, penulis buku dan puisi untuk memperkenalkan kata phubbing di media dengan kampanye, Stop Phubbing.

Dampak phubbing bisa sangat  berbahaya, bisa menumpulkan beberapa faktor dalam hubungan antar individu, juga dapat membuat ketegangan di dalam suatu hubungan.  Dalam suatu penelitian “Phubbed and Alone” yang dilakukan oleh Meredith David dan James A. Roberts dari Universitas Baylor, Texas, ditemukan bahwa saat ini  orang mengecek ponsel 150 kali dalam sehari.  Suasana dengan orang semacam inilah yang dikatakan dengan phubbing.  

Situs PsyBlog, situs tentang psikologi bahkan menyatakan bahwa phubbing adalah cara modern untuk merusak hubungan.  Pelaku phubbing biasanya tidak menyadari akan ketergantungan tersebut, tapi individu yang lain akan merasa terabaikan dengan tindakan tersebut, hal inilah yang bisa menjadikan faktor yang merusak suatu hubungan.

Ironisnya phubbing  sering dilakukan untuk melakukan hubungan dengan orang lain via chat dan media sosial tapi justru mengabaikan orang yang sedang bersama dengan kita.  Sebenarnya tindakan yang mengabaikan orang lain dalam suatu hubungan adalah merupakan sikap antisosial.

Dulu ketika TV begitu merajai, para psikolog juga membahas soal pengaruh TV yang dapat membuat interaksi antar manusia menjadi demikian berkurang.  Kalau dibandingkan dengan phubbing sekarang, ternyata menonton TV menjadi terlihat  lebih ringan, karena phubbing mengambil waktu  lebih banyak.

Selain phubbing, banyak sekali efek samping yang buruk yang di dapat dari  handphone atau smartphone, diantaranya adalah :

Nomophobia, yaitu No-mobile-phone-phobia.  Kekuatiran yang berlebihan dari seseorang akibat jauh dari ponsel, kehabisan baterai, tidak ada paket data atau berada di luar jaringan wi-fi.

Sleep texting, seorang yang sangat kecanduan dengan smartphone bisa berkirim pesan teks dalam keadaan tidur, umumnya terjadi pada dua jam pertama tidur.

Text Claw, rasa nyeri dan kram pada jari-jari, pergelangan tangan dan lengan bawah dikarenakan terlalu banyak melakukan kegiatan pengetikan dan menggenggam smartphone.

iPosture, kepala manusia mempunyai berat kurang lebih 5 kilogram, dikarenakan sering menunduk melihat smartphone mengakibatkan beban pada tulang belakang yang bisa menimbulkan nyeri pada bagian leher, kepala dan bahu.

Dry eye syndrom, suatu syndrome mata kering yang dapat mengakibatkan kerusakan pada mata, ini dikarenakan pengamatan terhadap layar akan membuat tingkat kedipan berkurang sampai sekitar sepertiganya.

Screen sightedness, kerabunan pada mata dikarenakan sering melihat layar ponsel.

Insomnia, juga bisa terjadi dikarenakan cahaya layar akan menekan pelepasan melantonin, suatu hormon yang membantu proses tidur.

sumber : Majalah Men’s Obsession, Juni 2018

Baca juga : Apakah yang dimaksud dengan bias konfirmasi?

 

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *