Kisah Bung Hatta dan sepatu Bally yang tidak mampu dibelinya

Bung Hatta adalah pribadi yang sangat sederhana, bersih,  sekaligus selalu terlihat necis.  Diceritakan , Bung Hatta mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang lebih rapih, untuk sekedar makan bersama putri-putrinya di meja makan keluarga.  Buat Bung Hatta, cara berpakaian adalah tentang bagaimana menghormati diri sendiri dan orang lain.  Tak heran Bung Hatta punya selera yang baik tentang pakaian, kita dapat lihat dari arsip-arsip fotonya.  Tapi ada hal yang menyedihkan mengenai  kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally yang tidak mampu dibelinya.

Kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally yang tidak mampu dibelinya

Tahun 1950an sepatu Bally adalah merk sepatu yang sangat terkenal di dunia termasuk di Indonesia.  Bung Hatta juga ingin sekali mengenakan sepatu buatan Swiss tersebut.  Suatu hari, ada iklan tentang sepatu Bally beserta tempat di mana sepatu tersebut dijual, si Bung pun menggunting dahulu iklan di koran tersebut dan menyimpannya karena belum mampu membelinya saat itu.

Bung Hatta menabung sedikit demi sedikit agar nantinya bisa membeli sepatu dambaannya.  Tapi apa dinyana, uang tabungan tersebut sealu saja terpakai untuk berbagai kebutuhan keluarga, atau membantu kerabat dan handai taulan yang datang meminta pertolongan.

Hingga akhir hayatnya,  sepatu bally dambaan sang proklamator Republik tidak pernah mampu dibelinya.  Keluarga menemukan potongan iklan sepatu tersebut, setelah Bung Hatta wafat.

Lain halnya dengan Bu Rahmi Hatta yang sangat ingin mempunyai mesin jahit.  Bu Rahmi pikir dengan memiliki mesin jahit maka ia dapat menghemat pengeluaran keluar untuk baju.  Tiap bulan ia mengumpulkan sedikit demi sedikit uangnya untuk membeli mesin jahit tersebut.

Uangpun terkumpul dan hampir mencukupi untuk membeli mesin jahit.  Tapi ketika hendak membeli, pemerintah mengumumkan kebijakan saneringSuatu kebijakan ekonomi yang diambil oleh Menteri Keuangan saat itu.  Uang Rp10.000 yang bergambar gajah dan Uang Rp5.000 yang bergambar macan diturunkan nilainya menjadi hanya Rp100 dan Rp50.

Uang yang ditangan Bu Rahmi pun jatuh nilainya dan tidak bisa dibelikan mesin jahit lagi.  “Pak,  Bapak kan Wakil Presiden, pasti tahu bahwa Pemerintah akan mengadakan sanering, mengapa Bapak tidak memberitahu kepada Ibu?”  tanya Bu Rahmi kepada suaminya.  “Bu…itu ‘kan rahasia negara,  kalau Bapak beritahu pada Ibu, berarti itu bukan raasia lagi”. Jawab Bung Hatta

Dua kisah diatas sungguh memilukan buat kita yang membacanya di jaman sekarang, bagaimana suatu kesederhanaan begitu melingkupi keseharian mereka, tapi tetap menjadikan mereka punya kelas tersendiri yang berbeda dengan lainnya.

Sumber : “Hatta, The untold story”; edisi khusus Intisari, Agustus 2016

 

Baca juga : Kisah persahabatan sejati antara Soekarno dan Hatta

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *