Kisah persahabatan sejati antara Soekarno dan Hatta

Bung Karno, di akhir masa hidupnya harus menghadapi keadaan yang sangat tidak enak. Bahkan buat kita yang membacanya di jaman yang berbeda.  Tapi kehadiran Bung Hatta di sisi tempat tidurnya, di hari-hari terakhirnya, mungkin sedikit menghibur Putra Sang Fajar.  Berikut adalah kisah persahabatan sejati antara Soekarno dan Hatta.

Kisah persahabatan sejati antara Soekarno dan Hatta

Berita tentang buruknya cara negara merawat Soekarno yang sedang sakit sampai ke telinga Bung Hatta.  Tak terima dengan keadaan tersebut, Bung Hatta melayangkan surat kepada Soeharto dan mengkritiknya tentang kondisi perawataan Soekarno.

Dikisahkan Hatta sampai menangis sesegukan di beranda. Dia bicara dengan istrinya, Rahmi, ingin bertemu dengan Soekarno. “Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik” ujar Rahmi.

Sambil menoleh ke istrinya, Hatta berkata “Soekarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku.  Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita, itu lumrah.  Tapi aku tak tahan mendengar berita, Soekarno disakiti seperti ini”

Hatta menulis surat kepada Soeharto untuk bisa menemui Bung Karno.  Surat terebut akhirnya disetujui oleh Soeharto.  Iapun diperbolehkan untuk mengunjungi sahabatnya itu yang sedang terbaring di Wisma Yaso, Jakarta.

Pertemuan terakhir sang dwi tunggal terjadi di Rumah Sakit Gatot Soebroto. Hari itu tanggal 20 juni 1970, Bung Hatta dengan hati-hati menghampiri sahabatnya.  Bung Karno , yang malam sebelumnya koma, mendadak tersadar dengan kehadiran Hatta, “Hatta…kau di sini?”. Hati Bung Hatta begitu tersayat melihat sahabatnya tergolek tak berdaya. “Ya…bagaimana keadaanmu No…?”

Sambil menyembunyikan kepedihan hatinya, Hatta memegang lembut tangan Bung Karno.  Lalu dengan bicara yang lemah Bung Karno melanjutkan bicaranya, dalam bahasa Belanda. “Hou gaat het met jou…?” (bagaimana keadaanmu…?).  Mendengar sahabatnya menyapa dalam bahasa Belanda, sebuah sapaan yang mengingatkan Hatta akan masa-masa perjuangan.

Hatta benar-benar tak kuasa menahan derasnya arus kesedihanya.  Bung Hatta yang terkenal dingin, dan tak terbiasa memperlihatkan perasaannya, kali ini tidak mampu menahan air matanya.

“No….” hanya kata itu yang mampu Bung Hatta ucapkan.  Soekarno lalu meminta Hatta untuk memasangkan kacamata agar dia dapat lebih jelas melihat Bung Hatta.

Pertemuan dua orang sahabat tersebut terjadi satu hari sebelum salah satu dari mereka wafat.  Demikian dekat hubungan keduanya sehingga Bung Karno seolah menunggu kedatangan sahabatnya sebelum akhirnya “pergi”.

Kisah persahabatan sejati antara Soekarno dan Hatta memang penuh dengan warna. Bung Hatta kerap kali berbeda pandangan dengan Bung Karno.  Tapi Bung Hatta pernah berkata “Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya!”.

Sumber : “Hatta, The untold story”; edisi khusus Intisari, Agustus 2016

Baca juga : 10 pemimpin tertua di dunia, berikut adalah daftarnya

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *